Lorong
di sela apartment 7 lantai bangunan lusuh nan kusam
diantara jejaring kosong tangga darurat yang berkarat
disitulah aku sering menyembunyikan hatiku
kuletakkan begitu saja di tanah dekat cucuran limbah air pendingin
kubiarkan musim dingin membekukan goresan luka yang tertera
kudiamkan gerah musim panas menyelimutinya dengan hawa panasnya
di lorong gelap yang tak pernah terkena cahya mentari
di sudut yang tak tersapa terangnya lampu
disitulah ingin kuletakan hatiku LAGI sekarang ini
sudah lama sekali aku tak lagi menelusuri lorong ini…
Sejak terakhir kali hatiku tercabik akan kuku tajam jari lentik
dan tergores dalam dari usapan bibir lembut nan menawan
ini pula yang kini kurasakan…
Mataku berpendar kunang-kunang membaca berita singkatnya
cukup panjang dari biasanya
begitu formal bahasanya hingga kumerasa…inilah akhir
segala intimasi yang selama ini mewarnai…
Inilah pungkasan segala canda yang menggema terdengar
inilah cerita awal dari kematian…
Hatiku menciut tak hendak tatap terang kebenaran
nyaliku melayang tuk hanya sekedar membayangkan kenyataan
terjerembab aku kembali dalam lorong
akrab dengan kegelapan yang membuncah
inilah saatnya kutinggalkan hatiku disana
dan biarkan pikirku menguasai hidup ini
kembali pada kering padang savana
tinggalkan semua bayang yang mempesona
…inikah maumu? Inikah mauku?
Cucuran limbah air pendingin ruangan masih setia
membasahi lorong gelapku…hingga sempurnalah becekku…
Bayangku pergi tinggalkan ku dalam kegelapan…