The Real Thing
Dulu waktu aku masih kecil, salah satu iklan isi film foto yang terkenal memiliki slogan berbunyi “lebih indah dari aslinya”. Slogan itu pula yang sering dipakai sebagai bahan candaan kalau ada orang yang dikenal lewat fotonya kelihatan cantik tetapi ketika bertemu secara langsung, muka ke muka atau bertatap muka ternyata tak seindah fotonya.
Ada ketakutan menyelinap dalam dada bahwa diriku, aku, si kecil ini juga akan diperlakukan seperti itu. Maka tak nyaman rasanya tiap kali ada orang yang minta bertemu, muka ke muka atau bertatap muka dengan diriku. Bahan candaan tak seindah fotonya selalu terngiang dalam benakku.
Namun, sebagaimana seringkali selalu ada perkecualian dalam segala hal, maka ini pula degup yang kurasakan dari perjumpaan dengan gadis imajinasiku.
Ada mulut terbuka ternganga tertegun menatap wajah yang tersenyum di depanku. Bayangan dan imajinasiku ternyata telah membatasi kenyataan yang tertemukan dalam jumpa.
Ingin rasanya segera kurengkuh wajah asli yang tertera di depanku dan membuang segera ke dalam sampah gadis imajinasiku. Inilah wajah yang sanggup membuatku duduk gemetar… dan deru membara yang moga tak tergambar dari sorot mataku terhadapnya. Adakah degup ini mampu juga getarkan degup jantungnya… atau
Justrukah jumpa sejenak telah merenggut segala pesonaku hingga benak candaan tak seindah tulisannya jatuh menimpa diriku hingga kalahkan degupku sendiri. Siap.. dan menerima itulah yang tampaknya harus kulakukan, andai the real thing sebagus ini, luruh lantaklah imajinasiku selama ini… namun.. the real thing jauh berada di luar jangkauan tuk meraih… mudah-mudahan masih bias kutemui imajinasikau dalam mimpi-mimpiku dengan gambar yang semakin nyata.
Biarlah kunikmati the real thing.. sebatas angan dan mimpiku… nyaliku tak punya, karena sadar diriku.. tak seindah.. tulisan dan imajinasinya… mungkin……