Archive for March, 2008

Kuda Poniku

Monday, March 31st, 2008

langkah kecil mulai terdengar, hati bunda kembali tergetar, debar hati yang melebar, telah membuat tawa diumbar

lenyap sudah tergolek lunglai, hanya karena nyamuk berjumbai, indahnya tawa kini berderai, lihat derita adinda sudahlah usai

kudaponiku mulai melangkah, munculkan derap kecil di tanah, usir rasa dalam gundah, sirnakan semua duka nan susah

kudaponiku jalanlah sudah… riangkan hati punya ibunda…

indah rasanya lihat mereka bercanda… aku hanya bisa menatap disana… sambil sembunyi di balik beranda… karena mereka hanya bayang keluarga… yang tak bisa terjangkau tangan terbuka…

biarlah sedihku harapkan mereka, kusimpan saja dalam sudut hatiku.. dan teruskan langkah dengan sepatu bututku… sembari senyum anggap mereka, bagian dari keluarga… kudaponiku dalam bayang keluarga… 

Sayap Bidadariku

Thursday, March 27th, 2008

Kecil mungil mengepak kencang

Agar kuat terbangkan diri melayang

Tengok sebentar awan yang mengembang

Turun menukik tertarik kumbang

Sorot mata tak henti berpendar

Lihat bola yang juga berputar

Senyum mengembang segera tergambar

Ceria sudah pasti sedang diumbar

Namun kini…

Tak mampu rasanya kulihat

Bidadari mungilku terkulai penat

Sayu mata tak hendak berkata

Sayap kecil pun jadi tak bersuara

Seribu mengapa segera terhujam

Saingi biluh yang menembus tajam

Sedih tak usah ditanya

Salahkah aku asuh adinda…

Sinar mentaripun tak mampu gantikan sorotmu

Kemilau warna bungapun tak tandingi tawamu

Bangkitlah bidadariku..

Kepak kencangkan sayapmu

Tebarkan pesonamu pada duniaku

Kalahkan awan gelap dengan senyummu..

Agar ku turut… bergembira..

Meski hanya dibenak bayangku saja

Bayang Gadisku Tersimpuh Lara

Wednesday, March 26th, 2008

Kecil melingkar terkapar

Ingin rasanya segera merengkuh

Bayang gadisku lagi duduk tepekur

Saksikan bocah kecil pelan mendengkur

Andai bisa gantikan sakitnya

Pastilah segera tak ragu tuk berpindah

Biar kutanggung rasa sakit ini

Agar bocah kecilku kembali tergelak

Bermain petak bersama kakanda

Tetes mata yang bukan karena gundah

Tapi karena guncang tawa tak terperi

Itu yang kini sedang sangat diharap

Bayang gadisku sedang luruh tersimpuh

Tatap raga kecil lagi mengeluh

Usap terus dahi yang berpeluh

Kapankah usai dada bergemuruh

Bayang gadisku ingin kusapa

Kutawarkan kata sekedar ganti lara

Apalah daya daku tak pernah nyata

Hanya mampu hampiri bayang semata

Akhirnya hanya bisa berkata

Dalam coret yang mungkin tak bermakna

Bagi sembuhnya si kecil dari lara…

Bayang gadisku… jangan berduka…

The Real Thing

Friday, March 21st, 2008

Dulu waktu aku masih kecil, salah satu iklan isi film foto yang terkenal memiliki slogan berbunyi “lebih indah dari aslinya”. Slogan itu pula yang sering dipakai sebagai bahan candaan kalau ada orang yang dikenal lewat fotonya kelihatan cantik tetapi ketika bertemu secara langsung, muka ke muka atau bertatap muka ternyata tak seindah fotonya.

Ada

ketakutan menyelinap dalam dada bahwa diriku, aku, si kecil ini juga akan diperlakukan seperti itu. Maka tak nyaman rasanya tiap kali ada orang yang minta bertemu, muka ke muka atau bertatap muka dengan diriku. Bahan candaan tak seindah fotonya selalu terngiang dalam benakku.

Namun, sebagaimana seringkali selalu ada perkecualian dalam segala hal, maka ini pula degup yang kurasakan dari perjumpaan dengan gadis imajinasiku.

Ada

mulut terbuka ternganga tertegun menatap wajah yang tersenyum di depanku. Bayangan dan imajinasiku ternyata telah membatasi kenyataan yang tertemukan dalam jumpa.

Ingin rasanya segera kurengkuh wajah asli yang tertera di depanku dan membuang segera ke dalam sampah gadis imajinasiku. Inilah wajah yang sanggup membuatku duduk gemetar… dan deru membara yang moga tak tergambar dari sorot mataku terhadapnya. Adakah degup ini mampu juga getarkan degup jantungnya… atau

Justrukah jumpa sejenak telah merenggut segala pesonaku hingga benak candaan tak seindah tulisannya jatuh menimpa diriku hingga kalahkan degupku sendiri. Siap.. dan menerima itulah yang tampaknya harus kulakukan, andai the real thing sebagus ini, luruh lantaklah imajinasiku selama ini… namun.. the real thing jauh berada di luar jangkauan tuk meraih… mudah-mudahan masih bias kutemui imajinasikau dalam mimpi-mimpiku dengan gambar yang semakin nyata.

Biarlah kunikmati the real thing.. sebatas angan dan mimpiku… nyaliku tak punya, karena sadar diriku.. tak seindah.. tulisan dan imajinasinya… mungkin……

Imaginary Girl

Monday, March 10th, 2008

Ngelangutkan diri antara Nijmegen dan Salzburg, tampak gelap malam tembuskan cahaya redupnya gugusan rumah-rumah kecil di tepian kanal-kanal Belanda…

lahan-lahan padang sisakan tempat bagi luapan kanal kala tertentu hingga tak kacaukan kegiatan manusia di luasan lainnya yang selalu tembuskan nafas-nafas kehidupan jua

dalam ngelangutkan diri sekelebat bayang tak jua pergi…tergiang masih susunan huruf-huruf yang meski tak panjang namun sarat dengan kedalaman… berat ya?… miss u

enggannya tangan tekan tombol tuk segera akhiri hidup kompie yang seolah sesegera itu merenggut seluruh bayang yang tergambar jelas barusan berkata… itukah kamu…

tak sekalipun jua perjumpaan terjadi, namun mengapa bayangmu begitu melekat tak juga beranjak meski kabel power sudah pula tercerabut dari sumbernya…

ngelangutkan diri dalam kereta malam yang menembus gelapnya kota-kota yang terlalui..dusseldorf, bonn, koln, frankfurt, munchen… adakah di kota berikutnya bayang ini khan relakan diri…

ataukah justru bayang ini mewujudkan melengkapi malam sepi dalam deru diri… manakah mungkin rindu khan bisa tercipta kala jumpa tak pernah nyata…

rindukah dengan kata-kata maya dalam dunia yang cepat bergerak? rindukah dengan icon-icon mungil yang ngumbar rasa tak terkata? rindukah jiwa dengan pertautan milik benda yang serupa dalam genggam….

inikah gadis imaginasiku…? diakah perempuan pelukan dunia mayaku? betulkan dia juga rasakan yang sedang kurasa? ataukah…

semaya dan sekhayal dunia yang tercipta lewat deretan binari mesin-mesin komputer…maka gadisku juga senyata deretan binari itu sendiri..yang segera lenyap ketika daya telah tercerabut dari sumbernya…

mengapa rindu terjadi pada gadis imaginasiku… bukankah…aku bisa saja ciptakan gadis imaginasi baru…

mengapa toch.. bayang imajinasi itu tak pergi???

ngelangutkan diri membelah malam menuju jatuhnya salju di negeri kahyangan… diriku memeluk malam…sendiri…