Sendiri dalam Keramaian

April 29th, 2008 by cah-bodho

Pernahkah engkau merasakan gelapnya ruangan tak memadamkan cahaya kesalahan

tahukan kamu sepinya diri di tengah keriuhan

kala cerianya lakon yang kutonton tak hilangkan gundah gulanaku

ketika ramenya cemooh kesalahan lebih keras dari ledakan dalam film

kalau kau pernah rasakan itu semua,

jika dirimu pernah alami itu semua…

Maka inilah kala rindu tertahan di dada

kala rasa pupus dengan segera…

Maaf yang terucap hanya berharap,

seperti ombak hampiri karang

setia menemui… Meski tak pasti

kapan karang khan lebur didera

inikah saatnya bagiku tuk undur diri

meski rasa masih mengajak tuk berlari

temui kekasih maya yang dinanti

namun diri telah hancurkan hati…

Dasar diriku tak tau berperi

maafkan daku yang tak mampu memberi…

Meski berat terlalu dihati

biarlah daku berpamit diri

tak berarti jiwaku ini…

Maaf kawan kalau kukecewakan hati

aku memang tak pantas ampun diberi…

Kawan… kamukah itu?

April 15th, 2008 by cah-bodho

Pergi menyisir pantai yang mengalir

Adakah bunyi mendesir dari ombak ikut mengukir

Camar melayang menembus awan putih yang menari

Tampak berseri temui kawan kembali…

Meski pucat pasi masih terlihat

Tidak ada rasa untuk tolak yang diminta

Ringan hati balas menyambut yang dipinta..

Lupakan luka yang sedang dirasa

Bencinya aku pada diriku semata

Tega-teganya minta pada yang lagi luka

Siapakah aku hingga berani berkata

Aku ga punya ticket kesana…

Hebat nian dikau suka membantu..

Tak ada kata yang bisa tergambar

Tuk sampaikan rasa terima kasih ku

Karena ucap sepertinya sudah diumbar

Sekejap kenal bagai sahabat senyawa

Tak puas rasanya hanya lalui pesan singkat

Maka tertulislah sampah kata ini saja

Hanya satu yang kutahu..

Pasti dikau kawan yang siap bantu

Terima kasih kawan…

Kaukah yang berhasil mengetuk pintuku???…

Kawan… kamukah itu?

Hanya tetes kecil mengalir hangat di pipi…

Lorong

April 12th, 2008 by cah-bodho

di sela apartment 7 lantai bangunan lusuh nan kusam

diantara jejaring kosong tangga darurat yang berkarat

disitulah aku sering menyembunyikan hatiku

kuletakkan begitu saja di tanah dekat cucuran limbah air pendingin

kubiarkan musim dingin membekukan goresan luka yang tertera

kudiamkan gerah musim panas menyelimutinya dengan hawa panasnya

di lorong gelap yang tak pernah terkena cahya mentari

di sudut yang tak tersapa terangnya lampu

disitulah ingin kuletakan hatiku LAGI sekarang ini

sudah lama sekali aku tak lagi menelusuri lorong ini…

Sejak terakhir kali hatiku tercabik akan kuku tajam jari lentik

dan tergores dalam dari usapan bibir lembut nan menawan

ini pula yang kini kurasakan…

Mataku berpendar kunang-kunang membaca berita singkatnya

cukup panjang dari biasanya

begitu formal bahasanya hingga kumerasa…inilah akhir

segala intimasi  yang selama ini mewarnai…

Inilah pungkasan segala canda yang menggema terdengar

inilah cerita awal dari kematian…

Hatiku menciut tak hendak tatap terang kebenaran

nyaliku melayang tuk hanya sekedar membayangkan kenyataan

terjerembab aku kembali dalam lorong

akrab dengan kegelapan yang membuncah

inilah saatnya kutinggalkan hatiku disana

dan biarkan pikirku menguasai hidup ini

kembali pada kering padang savana

tinggalkan semua bayang yang mempesona

…inikah maumu? Inikah mauku?

Cucuran limbah air pendingin ruangan masih setia

membasahi lorong gelapku…hingga sempurnalah becekku…

Bayangku pergi tinggalkan ku dalam kegelapan…

Flying Feeling

April 11th, 2008 by cah-bodho

have u ever felt that your body is separated from the soul? When the stuck of your body to a certain place doesn’t prevent your soul to wander when the eyes that starres look so blind that sunny side egg is seen as the face of my imaginary girl that the sounds of clapse of so many hands are beaten by the beat of my heart it is the feeling that flies leave the body side by side yet the feeling is intertwined. Have she felt the same… Or just my imagination of flying feeling or just i am so dumbed in imagining… Whatever it is… Let the feeling flies… And just enjoy the moment…

Kamar Tersembunyi

April 9th, 2008 by cah-bodho

Dulu aku punya kamar di belakang lemari pakaianku

Kala gundah menerjang gulana hingga memerah raga

Aku segera merangkak menuju ruang pengap dan sunyi itu

Hingga aku rasakan penderitaan di kamar itu lebih berat dari gundahku

Sudah lama aku tak masuki lagi kamarku itu

Karena tak pernah lagi gundahku begitu gulana

Yang buatku segera ingin menerobos dan diam dalam kamarku

Karena hidupku justru datar tak bergelombang

Hari demi hari

Detik demi detik

Kulalui bagai pedati menarik kumpulan bamboo di pagi buta

Namun…

Gundahku kurasakan lagi..

Seiring dengan getar semangat gelora dada membuncah..

Seturut itu pula takut mengkerucut menusuk hati…

Bayang gadisku… emang hendak tak kuraih…

Karena jelas sudah.. nyata tak

kan

tergapai..

Namun justru dalam dunia bayang akrabku semakin mengurai

Menelisip ke dalam relung-relung yang dalam..

…haruskah bayang gadisku kubiarkan lepas..

Dan aku masuki lagi kamarku…

Hingga sakit akan lepasnya bayang gadisku…

Tergantikan sakit dan pengapnya kamar gelapku…

Bayang gadisku… tegakah kau biarkan aku masuki kamar gelapku..?

Aku di sini Kau di sana

April 2nd, 2008 by cah-bodho

Ada

rindu dendam teronggok menyesak di sudut ruang baru

Tergeletak dalam kesunyian yang mencerabut berisik daun

Terbayang sudah janji temu yang

kan

menghapus segala dahaga

Bagai gemericik air mengalir ringan di tengah oase

padang

pasir

Bayang temaram matahari sore jelaskan waktu yang mendekat

Hampiri degup dada yang berlari cepat

Hendak tak sabar bertemu bayang diri yang tersamar

Malam yang dinanti semakin jelas tergambar

Petang ternyata terlambat datang menjelang

Alam belum lagi mendukung mentari tuk segera berlari

Hingga malam temu tak lah segera berkunjung

Sisakan rindu dendam masih tetap teronggok di ujung

Aku di sini kau di

sana

Kita dimana???

Kuda Poniku

March 31st, 2008 by cah-bodho

langkah kecil mulai terdengar, hati bunda kembali tergetar, debar hati yang melebar, telah membuat tawa diumbar

lenyap sudah tergolek lunglai, hanya karena nyamuk berjumbai, indahnya tawa kini berderai, lihat derita adinda sudahlah usai

kudaponiku mulai melangkah, munculkan derap kecil di tanah, usir rasa dalam gundah, sirnakan semua duka nan susah

kudaponiku jalanlah sudah… riangkan hati punya ibunda…

indah rasanya lihat mereka bercanda… aku hanya bisa menatap disana… sambil sembunyi di balik beranda… karena mereka hanya bayang keluarga… yang tak bisa terjangkau tangan terbuka…

biarlah sedihku harapkan mereka, kusimpan saja dalam sudut hatiku.. dan teruskan langkah dengan sepatu bututku… sembari senyum anggap mereka, bagian dari keluarga… kudaponiku dalam bayang keluarga… 

Sayap Bidadariku

March 27th, 2008 by cah-bodho

Kecil mungil mengepak kencang

Agar kuat terbangkan diri melayang

Tengok sebentar awan yang mengembang

Turun menukik tertarik kumbang

Sorot mata tak henti berpendar

Lihat bola yang juga berputar

Senyum mengembang segera tergambar

Ceria sudah pasti sedang diumbar

Namun kini…

Tak mampu rasanya kulihat

Bidadari mungilku terkulai penat

Sayu mata tak hendak berkata

Sayap kecil pun jadi tak bersuara

Seribu mengapa segera terhujam

Saingi biluh yang menembus tajam

Sedih tak usah ditanya

Salahkah aku asuh adinda…

Sinar mentaripun tak mampu gantikan sorotmu

Kemilau warna bungapun tak tandingi tawamu

Bangkitlah bidadariku..

Kepak kencangkan sayapmu

Tebarkan pesonamu pada duniaku

Kalahkan awan gelap dengan senyummu..

Agar ku turut… bergembira..

Meski hanya dibenak bayangku saja

Bayang Gadisku Tersimpuh Lara

March 26th, 2008 by cah-bodho

Kecil melingkar terkapar

Ingin rasanya segera merengkuh

Bayang gadisku lagi duduk tepekur

Saksikan bocah kecil pelan mendengkur

Andai bisa gantikan sakitnya

Pastilah segera tak ragu tuk berpindah

Biar kutanggung rasa sakit ini

Agar bocah kecilku kembali tergelak

Bermain petak bersama kakanda

Tetes mata yang bukan karena gundah

Tapi karena guncang tawa tak terperi

Itu yang kini sedang sangat diharap

Bayang gadisku sedang luruh tersimpuh

Tatap raga kecil lagi mengeluh

Usap terus dahi yang berpeluh

Kapankah usai dada bergemuruh

Bayang gadisku ingin kusapa

Kutawarkan kata sekedar ganti lara

Apalah daya daku tak pernah nyata

Hanya mampu hampiri bayang semata

Akhirnya hanya bisa berkata

Dalam coret yang mungkin tak bermakna

Bagi sembuhnya si kecil dari lara…

Bayang gadisku… jangan berduka…

The Real Thing

March 21st, 2008 by cah-bodho

Dulu waktu aku masih kecil, salah satu iklan isi film foto yang terkenal memiliki slogan berbunyi “lebih indah dari aslinya”. Slogan itu pula yang sering dipakai sebagai bahan candaan kalau ada orang yang dikenal lewat fotonya kelihatan cantik tetapi ketika bertemu secara langsung, muka ke muka atau bertatap muka ternyata tak seindah fotonya.

Ada

ketakutan menyelinap dalam dada bahwa diriku, aku, si kecil ini juga akan diperlakukan seperti itu. Maka tak nyaman rasanya tiap kali ada orang yang minta bertemu, muka ke muka atau bertatap muka dengan diriku. Bahan candaan tak seindah fotonya selalu terngiang dalam benakku.

Namun, sebagaimana seringkali selalu ada perkecualian dalam segala hal, maka ini pula degup yang kurasakan dari perjumpaan dengan gadis imajinasiku.

Ada

mulut terbuka ternganga tertegun menatap wajah yang tersenyum di depanku. Bayangan dan imajinasiku ternyata telah membatasi kenyataan yang tertemukan dalam jumpa.

Ingin rasanya segera kurengkuh wajah asli yang tertera di depanku dan membuang segera ke dalam sampah gadis imajinasiku. Inilah wajah yang sanggup membuatku duduk gemetar… dan deru membara yang moga tak tergambar dari sorot mataku terhadapnya. Adakah degup ini mampu juga getarkan degup jantungnya… atau

Justrukah jumpa sejenak telah merenggut segala pesonaku hingga benak candaan tak seindah tulisannya jatuh menimpa diriku hingga kalahkan degupku sendiri. Siap.. dan menerima itulah yang tampaknya harus kulakukan, andai the real thing sebagus ini, luruh lantaklah imajinasiku selama ini… namun.. the real thing jauh berada di luar jangkauan tuk meraih… mudah-mudahan masih bias kutemui imajinasikau dalam mimpi-mimpiku dengan gambar yang semakin nyata.

Biarlah kunikmati the real thing.. sebatas angan dan mimpiku… nyaliku tak punya, karena sadar diriku.. tak seindah.. tulisan dan imajinasinya… mungkin……